Pembelajaran Sains untuk Anak Usia Dini

Nur Chomariah, M.Pd

Pendahuluan

Pendidikan di TK dilaksanakan dengan maksud meletakkan dasar bagi perkembangan semua aspek tumbuh-kembang anak, baik kognitif, afektif, psikomotor, sebelum masuk pendidikan formal. Usia anak-anak TK merupakan masa yang peka dalam menentukan tumbuh kembang pada masa selanjutnya. Bredekamp (1987:2) mengatakan pembelajaran di TK dilaksanakan dengan prinsip-prinsip Developmentally Appropriate Practice (DAP), dengan pengertian bahwa pembelajaran pada anak bervariasi sesuai pengalaman, minat, perhatian, umur, kecakapan setiap individu anak. Bagi guru, DAP adalah menemui anak secara individu, dan kelompok di tempat anak berada, membantu setiap anak menghadapi tantangan-tantangan dan dalam mencapai tujuan yang berkontribusi pada perkembangan dan belajarnya. Dengan demikian, penting setiap guru memahami bagaimana anak-anak belajar dan berkembang melalui aktivitas-aktivitas yang dilakukan.

Bredekamp (1987:2) mengatakan pembelajaran di TK dilaksanakan dengan prinsip-prinsip Developmentally Appropriate Practice (DAP), dengan pengertian bahwa pembelajaran pada anak bervariasi sesuai pengalaman, minat, perhatian, umur, kecakapan setiap individu anak. Bagi guru, DAP adalah menemui anak secara individu, dan kelompok di tempat anak berada, membantu setiap anak menghadapi tantangan-tantangan dan dalam mencapai tujuan yang berkontribusi pada perkembangan dan belajarnya.

Pembelajaran sains di TK, menurut Semiawan (2002 :103) dilaksanakan berdasar pada asumsi dan visi ”science for all”, dimana sains adalah pengkajian dan penterjemahan pengalaman manusia tentang dunia fisik secara teratur dan sistematis. Dengan asumsi dan visi itu maka anak-anak TK juga memiliki hak untuk belajar sains.

Kehidupan di masa kanak-kanak didominasi oleh aktivitas bermain, tetapi bermain dapat mengembangkan pembelajaran sains di TK. Bermain bagi anak-anak merupakan jembatan untuk mengembangkan kemampuan kognitif, bahasa, ruang spasial dan lingkungan sekitar. Bermain bukan mata pelajaran, namun adalah komponen penting pengembangan, sebab saat bermain proses konstruksi pengetahuan anak terjadi dalam interaksinya dengan lingkungan sekitar. Bermain bagi anak adalah aktivitas sungguhan, yang dilakukan sepanjang hari dengan senang gembira tanpa paksaan, dimana anak menjelajahi dunianya dan memperoleh manfaat belajar tentang hal yang baru. Sedangkan interaksi sosial yang disebabkan oleh kegiatan bermain juga bisa membantu proses pembelajaran sains di TK. Karena dengan berkomunikasi guru dapat mengajak anak untuk langsung berkomunikasi dalam menyajikan materi. Karena rendahnya interaksi sosial anak TK dalam pembelajaran sains dapat membuat anak terlalu banyak menghayal.

A.   Pengertian Sains

Menurut Amien dalam Nugraha (2005:3), mendefinisikan sains sebagai bidang ilmu ilmiah, dengan ruang lingkup zat dan energi, baik yang terdapat pada mahkluk hidup maupun tak hidup, lebih mendiskusikan tentang alam (natural science) seperti fisika, kimia dan biologi.

Sedangkan menurut Sumanto dkk dalam Putra (2013:40), sains merupakan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis untuk menguasai pengetahuan, fakta, konsep, prinsip, proses penemuan, dan memiliki sikap ilmiah. Dari definisi tersebut sangat efektif bahwa pendidikan sains menekankan pada pembelajaran pengalaman secara langsung agar dapat menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah.

Setiadi dalam jurnal Yulia (2012:4), menyatakan bahwa sains adalah ilmu yang dapat diuji (hasil pengamatan sesungguhnya), kebenarannya dan dikembangkan secara konsisten dengan kaidah-kaidah tertentu berdasarkan kebenaran atau kenyataan semata sehingga pengetahuan yang dipedomani tersebut dapat dipercaya.

kemampuan tentang pengetahuan alam sekitar (sains) anak telah memilikinya sejak usia dini, dapat dilihat dari kemampuannya dalam menyebutkan objek yang ada disekitarnya, menjelaskan tentang peristiwa yang terjadi dan yang akan terjadi, serta hal-hal lainya. Pembelajaran sains sangat penting untuk anak agar anak tidak mudah percaya dengan mitos-mitos yang tidak terbuktu kebenarannya.

B. Kemampuan Sains Anak Usia Dini

Pada dasarnya sejak anak usia dini,  manusia sudah memiliki kecenderungan dan kemampuan berpikir kritis. Hal itu dijelaskan oleh Brewer Sebagai mahluk rasional dan pemberi makna, manusia selalu terdorong untuk memikirkan hal-hal yang ada di sekelilingnya. Kecenderungan manusia memberi arti pada berbagai hal dan kejadian di sekitarnya merupakan indikasi dari kemampuan berpikirnya. Kecenderungan ini dapat kita temukan pada seorang anak  yang memandang berbagai benda di sekitarnya dengan penuh rasa ingin tahu.

Kemampuan kognitif anak usia 5 – 6 tahun adalah :

(1) sudah dapat memahami jumlah dan ukuran,

(2) tertarik dengan huruf dan angka. Ada yang sudah mampu menulisnya atau menyalinnya, serta menghitungnya,

(3) telah mengenal sebagian warna,

(4) mulai mengerti tentang waktu, kapan harus pergi sekolah dan pulang dari sekolah, nama-nama hari dalam satu minggu,

(5) mengenal bidang dan bergerak sesuai dengan bidang yang dimilikinya,

(6) pada akhir usia 6 tahun, anak sudah mulai mampu membaca, menulis dan berhitung.

  Dengan pemahaman terhadap kondisi kognitif anak dan kemampuan belajar yang tinggi yakni rasa ingin tahu  tersebut, Pembelajaran sains yang kondusif akan membuat anak mengenali lebih baik obyek atau lingkungan yang dipelajarinya. Pembelajaran seperti itu akan membantu anak mengenali secara langsung berbagai hal. Anak akan mengenal tantangan hidup dan peluang-peluangnya. Dengan penyediaan pengalaman langsung melalui pembelajaran sains, kekuatan intelektual anak menjadi terlatih secara simultan dan terus menerus. Dengan sering mengamati, maka ketrampilan sains anak  akan berkembang.

Anak usia taman kanak-kanak telah memiliki kemampuan dasar tentang matematika dan pengetahuan tentang alam sekitar , yang dikenal dengan pengetahuan alam. Kemampuan dasar matematika ini dapat dilihat dari kemampuan anak tersebut dalam konsep bilangan, menghitung pada batas tertentu dan bahkan ada yang telah dapat melakukan operasi hitung secara sederhana. Perkembangan pengetahuan alam sekitar (sains) pada anak ini, dapat dilihat dari kemampuannya dalam menyebutkan nama objek yang ada disekitarnya, menjelaskan tentang peristiwa yang terjadi dan yang akan terjadi, serta hal-hal lainnya.

Maka, dapat disimpulkan bahwa kemampuan sains anak usia dini adalah kegiatan pada anak usia dini, diantaranya: kemampuan mengamati, mengklasifikasikan, menarik kesimpulan , mengkomunikasikan dan mengaplikasikannya berdasarkan pengalaman sains yang diperolehnya.

C.   Prinsip Pembelajaran Sains di Taman Kanak-Kanak

Ilmu Pengetahuan Alam (Sains) pada hakikatnya dapat ditanamkan pada anak sedini mungkin menurut Jamaris dalamYulianti (2010:24). Selain itu pemahaman anak mengenai sains akan lebih berfungsi, jika yang dikembangkan dengan seksama melalui kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-Kanak.

Menurut Yuliyanti (2010:24), Pendekatan pembelajaran sains pada anak Taman Kanak-Kanak hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip yang berorientasi pada kebutuhan anak dengan memperhatikan hal-hal berikut:

1)      Berorientasi pada Kebutuhan dan Perkembangan Anak

Salah satu kebutuhan perkembangan anak adalah rasa aman. Oleh karena itu jika kebutuhan fisik anak terpenuhi dan merasa aman secara psikologis, maka anak akan belajar dengan baik. Dengan demikian berbagai jenis kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan melalui analisis kebutuhan yang disesuaikan dengan berbagai aspek perkembangan dan kemampuan pada masing-masing anak. Tak terkecuali dalam pembelajaran sains, minat sains anak dapat dibangkitkan melalui bermain sains yang dirancang agar anak bisa bersosialisasi dengan teman, membangkitkan motivasi dan rasa ingin tahu.

2)      Bermain Sambil Belajar

Melalui kegiatan bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan obyek-obyek yang dekat dengannya, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Bermain bagi anak juga merupakan suatu proses kreatif untuk bereksplorasi, mempelajari ketrampilan yang baru dan bermain dapat menggunakan symbol untuk menggambarkan dunianya.

3)      Selektif, Kreatif, dan Inovatif

Materi sains yang disajikan dipilih sedemikian rupa sehingga dapat disajikan melalui bermain. Proses pembelajaran dilakukan melalui bermain. Proses pembelajaran dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang menarik, membangkitkan rasa ingin tahu, memotivasi anak untuk berpikir kritis dan menemukan hal-hal baru. Pengelolaan pembelajaran hendaknya juga dilakukan secara dinamis. Artinya anak tidak hanya dijadikan sebagai obyek, tetapi juga subyek dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu dibutuhkan kreativitas dan inovasi guru dalam menyusun kegiatan pembelajaran sains. Kegiatan belajar di Taman Kanak-Kanak dirancang untuk membentuk perilaku dan mengembangkan kemampuan dasar yang ada pada diri anak usia Taman Kanak-Kanak, dalam pelaksanaan pembelajaran sains harus disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan anak.

Selain memperhatikan prinsip-prinsip diatas untuk mengembangkan pembelajaran sains di TK, kita juga membutuhkan interaksi sosial yang baik untuk mencapai pemahaman anak pada kegiatan pembelajaran sains.

D.   Tujuan Pembelajaran Sains Untuk AUD

Leeper (1994),pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini hendaklah ditujukan untuk merealisasikan empat hal, yaitu

1.      Pengembangan pembelajaran sains pada anak ditujukan agar anak mampu untuk memecahkan masalahnya sendiri melalui metode sains.

2.      Pengembangan pembelajaran sains pada anak ditujukan agar anak memiliki sikap-sikap ilmiah.

3.      Pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini ditujukkan agar anak mendapatkan pengetahuan dan informasi ilmiah yang dapat dipercaya dan bersifat obyektif.

4.      Pengembangan pembelajaran sains ditujukan agar anak memiliki minat dan rasa ingin tahu terhadap apa yang ada disekitarnya.

Penjabaran tujuan pendidikan dan pembelajaran sains dapat disimpulkan menjadi 3dimensi yaitu, dimensi produk dimana dimensi ini mengenalkan pendidikan sains berupa pengenalan dan penguasaan fakta, konsep, prinsip, dan aspek-aspek yang terkait dengan hal yang bersangkutan dengan ilmu sains. Yang kedua ada dimensi proses, dimana seseorang ditujukan untuk mengarah pada penguasaan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam menggali dan mengenal sains. Yang terakhir ada dimensi sikap, dimensi ini suatu pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini secara bertahap agar membentuk sebuah kperibadian seorang anak.

E. Meningkatkan Kemampuan Kognitif Melalui Permainan Sains

Kognitif adalah suatu sistem kemampuan berfikir melalui percobaan, pengamatan dan kejadian secara mental seperti ketika anak melakukan permainan sains terlebih dahulu guru harus memahami batasan-batasan sains serta dimensi-dimensinya. Cara khas yang sangat menonjol pada anak usia dini termasuk anak taman kanak-kanak adalah suatu permainan. Kemampuan Kognitif juga sering disebut kognisi yang mempunyai pengertian yang luas mengenai berfikir dan mengamati. Dan ada juga yang mengartikan bahwa kognitif adalah tingkah laku-tingkah laku yang mengakibatkan orang bisa memperoleh pengetahuan atau yang dibutuhkan untk menggunakan pengetahuan. Selain itu kognitif juga dipandang sebagai suatu konsep yang luas dan inklusif yang mengacu pada kegiatan mental yang terlibat didalam perolehan, pengolahan organisasi dan penggunakan pengetahuan. Bila disimpulkan maka kognisi dapat dipandang sebagai kemampuan yang mencakup segala bentuk pengenalan kesadaran, pengertian yang bersifat mental pada individu yang digunakan dalam interaksinya antara kemampuan potensional dengan lingkungan seperti. Dalam aktivitas mengamati menafsirkan memperkirakan, mengingat, menilai dan lain-lain. Proses kognitif penting dalam membentuk pengertian anak berhubungan dengan proses mental dari fungsi kognitif. Hubungan kognisi proses mental disebut sebagai kognitif.

    Dengan kegiatan bermain dapat membuat anak mengembangkan pembelajaran sains di dialam dirinya sendiri, dengan bantuan orang dewasa yang ada disekitarnya. Sains dalam diri anak harus dikembangkan dengan cara baik agar anak dengan mudah memahami pembelajaran sains dan menyukai kegiatan sains. Kegiatan bermain yang membantu mengembangkan pembelajaran sains dapat melakukan eksperimen-eksperimen sederhana yang dilakukan anak. Sains,saat ini menjadi hal yang penting untuk diterapkan atau dikenalkan pada anak-anak usia dini karena sains  dapat mengajak anak untuk berpikir kritis, dengan sains anak  tidak begitu saja menerima atau menolak sesuatu. Mereka mengamati, menganalisis dan mengevaluasi informasi yang ada sebelum menentukan keputusannya. 

Dengan melalui percobaan-percobaan sains melalui ketrampilan proses, anak-anak dapat ditingkatkan kemampuan sainsnya. Dengan media observasi,  anak yang mempunyai kemampuan sains yang tinggi dapat menemukan dan mempertanyakan objek-objek yang dipahaminya. Anak usia 4-6 tahun dapat dilatih untuk mempunyai kemampuan sains . Anak dapat mulai diajarkan ketrampilan observasi dasar  seperti pengamatan.Lewat cara ini anak dapat diajak untuk memahami apa itu bunyi, udara, air, cahaya, suhu, tanah serta berbagai kayu dan logam. Mendidik anak mempunyai kemampuan sains dapat membantu orang tua untuk menghindarkan anak dari kemungkinan menggunakan informasi yang tidak tepat. Mendidik anak mempunyai kemampuan sains akan membantu anak untuk secara aktif membangun pertahanan diri terhadap serangan informasi disekelilingnya.

Mengenalkan sains pada anak prasekolah melalui permainan yang menyenangkan dengan bahan yang ada disekitar anak. Pengenalan sains pada anak prasekolah lebih ditekankan pada proses dari pada produk. Oleh sebab itu dalam bermain sains anak diajarkan untuk menggunakan seluruh panca indranya sebaik mungkin, agar dalam proses bermain tersbut anak dapat menemukan jawaban-jawaban dari suatu kegiatan bermain. Kegiatan sains memungkinkan anak melakukan eksplorasi terhadap berbagai benda, baik benda hidup maupun benda tak hidup yang ada disekitarnya. Anak belajar menemukan gejala benda dan gejala peristiwa dari benda-benda tersebut. Karena dengan bermain anak dapat belajar dengan cara yang menyenangkan yang tidak membuat anak bosan terhadap kegiatan sains yang sedang berlangsung. Dengan kegiatan pembelajaran sains anak juga dapat mengenal seni yang ada disekitarnya. Karena kegiatan sains memerlukan seni yang membuat keterampilan-keterampilan anak berkembang dengan baik.

Dalam mengembangkan desain model pembelajaran sains melalui bermain di TK yang membantu guru meningkatkan pengetahuan sains, kecakapan proses sains, sehingga meningkatkan keefektifan dan mutu pembelajaran dengan melekatkan fakta, konsep, teori, sains dasar yang relevan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan kognitif anak. Penerapannya pada situasi atau pada tempat lain, dapat dilakukan dengan menyesuaikan dengan kondisi dan sumber daya setempat. Bagi guru-guru TK, usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan, kecakapan/keterampilan proses sains merupakan unsur penting bagi peningkatan mutu dan efektivitas pembelajaran sains melalui bermain, sebab kegiatan keseharian guru ditantang untuk mampu melayani dan menjawab pertanyaan saintifik-otentik yang muncul dalam kegiatan bermain.

Kemampuan kognitif anak pun berkembang saat melakukan kegiatan bermain pada pembelajaran sains pada anak, karena penguasaan kognitif sangat erat kaitannya dengan kemampuan berfikir anak. Sistematikanya dalam berfikir yang termasuk dalam pengembangan kognitif selain dari percobaan adalah kemampuan suat permainan.

Daftar Pustaka

http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/prosbio/article/view/3153

http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/Bungamputi/article/view/2775/1874

Suyadi,2013.Teori Pembelajaran Anak Usia Dini.Yogyakarta:PT.Remaja Rosdakarya Bandung.

Nugraha Ali. 2005, Pengembangan Pembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini, Jakarata: Departemen Pendidikan Nasional

Ward Hellen. 2010, Pengajaran Sains Bagi Berdasarkan Kerja Otak, Jakarata: Indeks